Semua mengecam Israel. Aksi bengisnya membunuh ratusan rakyat Palestina sejak dulu menuai hina. Namun, yang perlu diingat sejatinya Israel bisa ada dalam diri kita. Bangsa ini adalah contoh dari sebuah peradaban yang kalah.
Kekalahan yang saya maksud adalah kalahnya cahaya manusiawi, akal, yang telah digantikan oleh hawa nafsu. Kini hawa nafsu yang berkuasa dan akal jadi budak. Dari kepemimpinan nafsu inilah lahir berbagai sifat hewaniyah. Seperti sombong, angkuh arogan, dan selalu serakah, ingin menang sendiri.
Semua orang pun juga bisa berpotensi seperti ini. Apabila cinta dunia sudah membutakan cahaya illahi dalam ruhiyah, maka akal senjata utama khalifah fill ard ini akan lumpuh. Dan saat itulah kekalahan kita. Kalah dalam perang melawan hawa nafsu sendiri.
Dunia yang menawarkan kebahagiaan memang menjadi senjata utama bagi nafsu untuk selalu ingin menang sendiri. Hidup glamor dengan sejuta anggur yang diteguk mampu memabukan kita dari rasa saling memberi dan berbagi.
Contoh nyata satu lagi adalah sebuah fenomena akan krisis global. Tanpa sadar masalah ini berasal dari jiwa kita yang lambat laun sudah dikuasai nafsu. Semua selalu ingin enaknya sendiri. Muda kaya raya, tua foya-foya. Yang kaya ingin makin kaya dan si miskin tak ada yang peduli.
Dari sebuah kerakusan berawallah krisis yang nantinya diramalkan bakal mengakibatkan pemutusan hubungan besar-besaran ini. Dari penggunaan kredit yang macet hingga ulah salah seorang yang benar-benar tahu akan kekalahan kita.
Nah, biang keladi tersebut salah satunya adalah Bernard ”Bernie” Madoff. Yahudi umur 80 tahun ini benar-benar memanfaatkan rasa cinta dunia yang berlebih dari kalangan kaya dunia. Ia menawarkan semacam sistem dengan bunga yang lebih besar dari Bank manapun. Alhasil, ratusan triliun mengalir begitu cepat pada perusahaannya.
Lacur, apa daya, para manusia yang ingin selalu berlebihan ini tak mengerti bila uang yang telah ia percayakan pada “Bernie” akan lenyap. Dalam sebuah artikel yang berjudul rekor si pendosa beralih ke Bernie, Dahlan Iskan menjelaskan bila sistem yang digunakan adalah mengharuskan adanya sistem berantai atau biasa disebut piramid. Harus ada seseorang setelah anda yang juga menaruh disana, maka anda akan mendapat bunga yang menarik. Bila tidak ada, atau ada seseorang yang menarik uang dari piramid riba ini, maka hancurlah sistem keuangan ini.
Dan kehancuran ini benar-benar terjadi. Dampaknya pun memukul telak dunia hingga hampir setengah KO. Krisis ini muncul, dari tangan orang-orang yang melebihi batas dalam mengeruk dunia. Mereka dikalahkan oleh hawa nafsu duniawi yang ingin selalu berlebihan.
Disaat ini, mungkin salah satu petuah bijak lama kembali menemukan makna. Petuah dari hadist Rasullullah yang menganjurkan setiap diri agar tak larut dan hidup secara berlebihan. Makanlah secukupnya dan berhentilah makan sebelum kenyang. Kata-kata yang sederhana, bukan? Tapi memang begitu sulit menerapkannya dijaman yang segalanya sudah mulai dirambah oleh semangat kapitalis.
Di akhir tulisan ini, diri sendiri ingin berkaca apakah selama ini akal sudah dikuasai nafsu. Apakah diri ini sudah kalah? Sebuah pertanyaan yang sampai saat ini selalu membuat diri ini selalu berpikir optimum hingga mencapai titik tertinggi kurva pemikiran.
Namun, disaat diri ini sibuk mengevaluasi, seruan itu datang lagi. Seruan yang sayup-sayup terdengar syahdu ke dalam hati para insan pendamba kemenangan. Melawan hawa nafsu. Seruan itu berbunyi marilah sholat, marilah menuju kemenangan.
Semoga kita selalu bisa melewati peperangan dengan diri sendiri. Perang melawan hawa nafsu. Amin
Rabu, 14 Januari 2009
Kalah
Senin, 29 Desember 2008
Refleksi 1 Muharam 1430 H
Memisahkan Yang Beradab dan Jahiliah ?
Dikutip dari Harian Jawapos
Oleh A. Mustofa Bisri *
Penanggalan Islam bermula dari ide Amirulmukminin Umar Ibn Khatthab r.a.( 586-644 M). Ide itu muncul setelah sahabat Umar mendapat surat dari Abu Musa 'Asy'ari r.a.Gubernur di Kufah itu menyatakan bahwa dirinya telah menerima beberapa surat yang tidak ?bertanggal.Amirulmukminin pun, seperti kebiasaannya, mengumpulkan tokoh-tokoh sahabat -seperti sayidina Utsman Ibn 'Affan dan sayidina Ali Ibn Abi Thalib- untuk diajak bermusyawarah mengenai idenya tentang ?penanggalan Islam itu.
Dalam musyawarah muncul bermacam-macam pendapat mengenai hari bersejarah apa yang akan dijadikan patokan bagi penanggalan Islam. Ada yang berpendapat sebaiknya tarikh Islam dimulai dari tahun lahirnya Nabi Muhammad SAW. Tetapi, ada yang sebaliknya, mengusulkan dimulai dari wafatnya; ada yang berpendapat sebaiknya dimulai dari saat Nabi Muhammad SAW diangkat menjadi rasul. Juga ada yang berpendapat sebaiknya dimulai dari saat Rasulullah SAW diisramikrajkan serta ada yang berpendapat sebaiknya kalender Islam dimulai dari tahun Hijrahnya Nabi Muhammad SAW dari Makkah ke Madinah.
Akhirnya, usul yang terakhir itu yang menjadi keputusan. Dibandingkan dengan tonggak-tonggak sejarah dalam Islam yang lain, hijrah ke Madinah memang merupakan yang paling bermakna. Hijrah merupakan tonggak pemisah antara kondisi jahiliah di Makkah dan kondisi peradaban Islam di Madinah. Tonggak pemisah antara kekufuran dan iman; kemusyrikan dan ketauhidan. Atau, menurut istilah sayidina Umar r.a., merupakan pemisah antara yang ?haq dan yang batil.
Semangat hijrah dari satu kondisi ke kondisi yang lain, terutama dari yang buruk ke yang baik, diharapkan terus menyala di dada umat Muhammad SAW. Sebab, setiap tahun baru mereka diingatkan kembali kepada peristiwa ?bersejarah yang penuh makna itu.
Bukan hanya perpindahan fisik dari Makkah ke Madinah. Meskipun itu saja sudah memerlukan pengorbanan yang besar. Diharapkan lebih dari itu, orang bisa teringat betapa kebodohan dan keangkuhan jahiliah ditinggalkan muslim-muslim teladan di bawah pimpinan sang pemimpin teladan Nabi Muhammad SAW menuju peradaban dan keluhuran akhlak.
Perselisihan digantikan oleh persatuan. Permusuhan digantikan oleh persaudaraan. Kesombongan digantikan oleh kerendahan hati. Fanatisme buta digantikan oleh tawassuth wal I'tidaal. Merasa pintar dan benar sendiri ?digantikan oleh ketawadukan dan kesediaan menghargai pihak lain. Bila hijrah secara fisik sudah tidak ada, kita masih bisa mengambil hikmah dari maknanya yang agung itu.
Di tahun baru Hijriah ini kita, misalnya, bisa kembali menghadirkan tokoh-tokoh Muhajirin dan Ansor yang begitu mulia budi pekertinya untuk kita teladani. Mereka tak henti-hentinya menebar kasih sayang ke mana-mana, terutama dengan amar makruf nahi mungkar. Mereka tidak saling membenci dan saling menghina. Mereka yang memiliki kelebihan justru bersikap tawaduk kepada sesama.
Dan, yang memiliki kelebihan ilmu, misalnya, tidak menjadi pongah dan merendahkan orang lain. Yang memiliki harta tidak menjadi congkak dan bakhil terhadap sesama. Semua meniru belaka pemimpin agung mereka, Nabi Muhammad SAW, Nabi Kasih Sayang yang memiliki kelebihan tak ada bandingannya, namun selalu bersikap tawaduk dan rendah hati.
Mudah-mudahan kita diberi kekuatan oleh Allah SWT untuk melakukan hijrah dari kondisi jahiliah yang tengik menuju kondisi peradaban yang beradab. Mudah-mudahan Allah memberikan kekuatan kepada kita untuk menundukkan ego kita sendiri yang degil dan melawan setan yang terkutuk, serta memudahkan kita mendapatkan keridaan-Nya. Amin. ?Selamat Tahun Baru!
Selamat ''Berhijrah''
*. KH A. Mustofa Bisri, pengasuh Pondok Pesantren Roudlatut Tabilin, Rembang
Sabtu, 27 Desember 2008
Burung Beo & Pak Kyai
Syahdan, disebutkan hiduplah seorang kyai kharismatik di pulau Jawa. Ia memiliki pesantren yang demikian besarnya dan tak diragukan, keharuman hegemoni pesantren yang ia asuh, tersebar luas ke seantero nusantara. Jumlah santrinya ribuan. Mereka berdatangan dari pelosok desa dan kota, demi mencicipi nikmatnya tholabul 'ilmi di bawah bimbingan sang kyai.
Kyai ini memiliki memiliki hobi yang unik, yakni memelihara burung Beo. Ia sangat sayang pada burung Beo peliharaannya. Saking sayangnya, pak Kyai tak ingin Beonya dipelihara oleh siapan pun, termasuk santri khodim dalem. Pak kyai ingin mengurusinya sendiri. Mulai dari memberikan makan, membersihkan kandang, dan memandikan, semuanya pak Kyai sendiri yang melakukan. Ia mengajarkan burung Beo kesayangannya untuk "mengucapkan" kalimah yang indah, kalimah tahlil, "Laa ilaaha illallaah". Begitulah, apa yang disiulkan si burung Beo tiap harinya bukanlah suara yang lain kecuali apa yang diajarkan oleh tuannya, yaitu lafadz : Laa ilaaha illallaah.
Hari-hari berjalan dengan damainya. Pak Kyai masih menikmati hobinya, memelihara burung Beo, di samping ia juga mengajarkan hikmah ilmu ke segenap santrinya. Hingga, hari naas itu pun datang.
Saat itu, pak Kyai membiarkan burung Beonya beterbangan. Pikir beliau, karena Beonya sudah lama ia pelihara, tentunya Beo itu sudah "kuthuk", tak akan terbang jauh-jauh dari sangkar.
Tapi, tanpa dinyana, ada seekor kucing yang mengincar burung Beo yang asyik terbang itu. Dan ketika burung Beo terbang rendah di atas tanah, si kucing pun berhasil menggapainya. Langsung saja, setelah berhasil mendapatkan buruan, si kucing tak tinggal diam. Ia berlari mengamankan santapan. Burung Beo yang berada di jepitan gigi runcingnya hanya mencicit kesakitan, "ciiit, ciit, ciit". Kasihan.
Pak Kyai yang tahu Beonya diembat kucing bukannya tak tinggal diam. Namun apalah daya, fisiknya yang sudah sepuh, tak kuat untuk mengimbangi lari si kucing.
Sejak kematian Beonya tersebut, Pak Kyai kelihatan lebih banyak bermuram durja. Ia mengurung diri di dalam kamar. Aktifitas mengaji yang biasa ia bina, dibadalkannya kepada santri senior kepercayaan. Pak Kyai hanya keluar dari kamar bila waktunya sholat berjama'ah. Pada saat itu, para santri jelas melihat wajah kyainya yang muram, tanpa senyuman.
Tak ingin menyaksikan sang kyai terus-terusan bersedih, para santri senior yang duduk dikepengurusan pondok akhirnya syawir. Mereka berinisiatif membelikan pak Kyai burung Beo yang baru. Mereka berharap, dengan Beo yang baru pak Kyai tak lagi murung dan bersedia kembali mengajar mengaji.
Tapi, apa kata pak Kyai setelah tahu para santrinya membelikan ia burung Beo? "Wahai para santri, saya bersedih bukan karena kematian burung Beo atau karena merasa kehilangan. Tahukah kalian, aku sedih karena membayangkan nasib saya saat menemui ajal nantinya."
Para santri kebingungan, apa hubungannya burung Beo dengan ajal? Pak Kyai paham apa yang dipikirkan santrinya, ia pun melanjutkan,"Lihatlah, burung Beo yang saya ajarkan hanya mengucapkan "Laa ilaaha illallah" saja, saat ia menemui ajalnya digigitan kucing, ia tak tak mengucapkan "Laa ilaaha illallah". Hanya berceruwit. Ke mana lafadz tahlil yang ia kicaukan tiap hari itu?"
Beo saja, lanjut sang Kyai, yang tak pernah maksiat, tak pernah mencaci maki, tak pernah menghina, dan tak pernah berkata kotor, saat ajal tiba sekalipun ia lupa akan tahlil yang biasa ia siulkan. "Lalu bagaimana dengan saya nanti, dengan mulut dan hati yang penuh kemaksiatan? Akankah saya selamat mengucapkan kalimah thoyyibah itu saat menjelang sekarat pati? Itulah yang saya khawatirkan wahai para santriku," tutur sang Kyai dengan air mata berlinang.
dicuplik dari
www.masjid.its.ac.id